19Aug

Dampak Melemahnya Nilai Tukar Mata Uang Dalam Negeri Terhadap Mata Uang Asing

Setiap negara pasti memiliki aturan dan ciri khas masing-masing, semuanya akan berbeda dari setiap sektor. Begitupun dengan sektor ekonomi, dimana setiap barang akan memiliki harga yang berbeda serta satuan uang yang berbeda pula. Karena memang nilai tukar dari setiap mata uang berbeda.

Nilai tukar mata uang di dunia bisa melemah dan juga bisa menguat dan yang digunakan sebagai pusat atau mata uang internasionalnya adalah dolar Amerika Serikat. Perputaran mata uang dan juga nilai tukarnya yang selalu berubah sangatlah memberikan dampak yang besar untuk negara yang bersangkutan. Terlebih lagi di sektor ekonomi, sektor ini adalah sektor yang paling banyak terkena dampak.

Hal ini mengingat dimana sektor ekonomi memiliki interaksi langsung dengan dunia keuangan dunia. Ada banyak dampak yang bisa diterima dengan menguatnya dan melemahnya nilai tukar mata uang dalam negeri. Sekarang ini yang banyak terjadi adalah melemahnya nilai tukar mata uang dalam negeri, Rupiah. Dan ini adalah masalah serius yang harus dihadapi oleh Indonesia. Ada banyak faktor yang menimbulkan masalah moneter ini, dan dampak yang ditimbulkan juga beragam.

Berbagai dampak yang timbul dari melemahnya nilai tukar rupiah pada perputaran moneter internasional, ada yang bisa diambil sisi positifnya dan juga negatifnya. Anda sebagai masyarakat yang baik, ada baiknya jika Anda mengetahui tentang dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terutama dolar Amerika Serikat.

Maka dari itu baca dan cermati info mengenai dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing berikut ini.

Melemahnya rupiah

Saat ini Indonesia memiliki masalah moneter yang serius, dimana nilai tukar rupiah dengan dolar Amerika Serikat semakin melemah. Meskipun adakala dimana nilai tukar rupiah menguat, namun terjadi penurunan lagi. Padahal pada zaman dahulu nilai tukar rupiah per satu dolar Amerika Serikat hanya Rp 10.000. Namun nilai tukar rupiah semakin melemah mulai dari Rp 13.333 hingga sekarang menginjak angka kisaran 14 ribu rupiah. Padahal jika dibandingkan dengan sebelumnya, nilai tukar rupiah bisa dibilang menurun dan melemah secara drastis. 

Dalam sejarah keuangan Indonesia, nilai tukar rupiah paling lemah adalah pada saat terjadi krisis moneter pada tahun 1998. Saat itu Indonesia ada pada masa pemerintahan Bapak Soeharto, dan krisis saat itu menimbulkan berbagai demonstrasi untuk menurunkan Soeharto dari kepemimpinannya. Banyak masyarakat yang menilai jika kepemimpinan Soeharto yang otoriter merugikan rakyat. Jadi, pada tahun 1998 adalah dimana Indonesia mengalami krisis ekonomi yang paling parah sepanjang masa.

Faktor penyebab

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang internasional bukanlah kejadian yang semata-mata terjadi begitu saja. Karena setiap peristiwa ada penyebabnya, begitupun dengan melemahnya nilai tukar rupiah ini. Ada banyak penyebab dari menurunnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang internasional. 

Beberapa penyebabnya adalah perbedaan suku bunga, perbedaan tingkat inflasi pada setiap negara, utang negara, kebijakan perdagangan pada setiap negara, dan tingkat stabilitas ekonomi dan politik yang terjadi di Indonesia.  Tingkat peredaran uang di masyarakat yang tinggi dan melebihi jumlah uang yang berada di bank adalah penyebab dari inflasi, dengan demikian pasti harga barang di pasaran naik dan nilai tukar rupiah juga ikut naik, ini yang disebut dengan inflasi. 

Dampak negatif

Melemahnya rupiah pada perputaran mata uang dunia pasti membawa berbagai dampak bagi Indonesia. Secara global ada beberapa dampak negatif yang dirasakan Indonesia. Beberapa dampak negatif tersebut seperti mahalnya barang impor, investor yang mengalihkan dananya, suku bunga, suku bunga naik, cadangan devisa tergerus, dan beban utang negara bertambah. 

Ketika Anda membeli barang impor pastinya akan menggunakan dolar untuk penjualan dari asalnya, dan barang akan mahal jika dirupiahkan, sehingga barang impor akan semakin mahal jika rupiah terus melemah. Begitupun dengan BBM, karena jika impor minyak juga menggunakan nilai mata uang dolar AS. Untuk investor pasti untuk meraup untuk yang besar ia akan memilih nilai mata uang yang kuat, karena semakin kuat nilai mata uang maka akan semakin menguntungkan untuk investor.

Jika suku bunga acuan naik, ini adalah upaya dari Bank Indonesia atau bank central untuk kembali menguatkan nilai tukar rupiah, selain itu dengan ini juga diharapkan dapat mengurangi inflasi. Upaya bank central tak terhenti dengan itu saja, namun juga dengan menggunakan devisa negara yang ada dalam bentuk mata uang lain. Cadangan devisa yang berupa mata uang lain ditukarkan dengan rupiah, dengan itu ada harapan nilai rupiah terjaga dan bisa menguat. 

Namun jika hanya mengandalkan ini maka nilai cadangan devisa semakin tergerus. Selain itu dengan melemahnya nilai tukar rupiah, maka beban utang negara juga akan semakin bertambah. Hal ini karena utang negara ada dalam bentuk dolar, sehingga semakin melemah maka utang negara semakin besar.

Dampak positif

Selain dampak negatif, juga ada dampak positif yang dapat diambil dari melemahnya nilai tukar rupiah. Seperti orang yang memiliki gaji dolar maka gajinya bisa dibilang naik, keuntungan di bidang ekspor, permintaan barang lokal naik, dan pertumbuhan kredit menguat. Orang yang bekerja dengan gaji hitungan satuan dolar akan sangat diuntungkan, biasanya orang yang bergaji dolar bekerja di luar negeri. 

Dengan naiknya nilai tukar maka secara otomatis jika dibawa dan ditukarkan ke Indonesia, maka gajinya akan naik drastis. Untuk di bidang ekspor barang ke luar negeri maka akan dijual dengan satuan dolar, dan dengan itu maka barang ekspor akan mengalami kenaikan harga jika dijual di luar negeri. Hal ini dapat dilihat ketika menukar harga barang ekspor dengan nilai satuan rupiah. Ketika barang ekspor harganya naik, maka harga barang impor juga akan naik. 

Dengan naiknya harga barang impor maka konsumsi barang impor di masyarakat akan menurun. Dengan itu masyarakat akan mengganti barang impor dengan barang lokal, sehingga permintaan barang lokal di pasaran juga akan meningkat. Untuk kenaikan suku bunga tidak selamanya merugikan, karena itu sendiri juga upaya terbaik dari bank central. 

Dengan naiknya suku bunga maka pertumbuhan kredit akan melambat dan dengan itu maka akan banyak orang yang menunda pengambilan kredit. Setelah itu mereka pasti akan merencanakan pengambilan kredit setelah suku bunga mulai turun dan normal, dengan itu berarti kondisi keuangan saat stabil.

Bergabung dengan Kudo

Ketika Anda berbisnis, pasti akan khawatir jika bisnis Anda akan terkena dampak dari melemahnya dan menguatnya nilai tukar mata uang dalam negeri. Karena jika bisnis yang Anda jalankan bermasalah, maka Anda bingung dan kehidupan Anda kurang tenang. Maka dari itu Anda bisa memanfaatkan aplikasi satu ini, Kudo. Aplikasi ini sangat cocok untuk Anda yang ingin memulai bisnis dari awal dan sederhana, seperti menjual pulsa dan bayar PPOB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *