13Jun

Inilah Sosok Agen di Pelosok yang Berdagang dengan Modal Jujur

Bagi mereka tidak perlu menjadi mapan terlebih dahulu untuk dapat bersedekah, asalkan bermodalkan kejujuran.

 

 

MajalahKartini.co.id – antara deretan amalan utama yang wajib ditingkatkan di bulan suci Ramadan adalah bersedekah, berbagi kepada kerabat, sanak saudara dan mereka yang membutuhkan uluran tangan di luar sana. Mengesankannya, warga kecil pelosok yang tidak menjadikan kondisi hidup yang serba pas-pasan sebagai alasan untuk tidak berbagi kepada sesama. Tiga cerita di bawah ini adalah kisah agen-agen dari pelosok penjuru Indonesia sebagai suri tauladan, bahwa tidak perlu menjadi mapan terlebih dahulu untuk dapat bersedekah, asalkan bekerja bermodalkan kejujuran.

 

1. Ibu Eni (Denpasar)

Ibu Eni (34), ibu dari 5 yang sehari – hari harus berangkat subuh untuk berdagang , , , dan barang kebutuhan dasar di warung sederhananya di daerah Denpasar Selatan. Meskipun bukan dari kalangan masyarakat berada , di awal 2017 lalu Ibu Eni justru mampu mendonasikan sebagian besar pendapatan bulanannya untuk Yayasan Panti Asuhan Yappa.

Ia menyatakan, donasi tersebut sebagai ungkapan syukur karena dengan tambahan penghasilan yang ia kumpulkan lewat , usahanya telah berkembang menjadi 2 warung. Hal ini tercapai karena Ibu Eni selalu mengedepankan kejujuran sebagai utama dalam berdagang sehingga pelanggan setia kembali ke warungnya.

“Mungkin pelanggane buru-buru, pelanggane Ibu sering sekali ketinggalan kembalian. Pernah Ibu harus kejar pake motor sampe ke jalan raya Sesetan Selatan demi ngembaliin 5000 rupiah. Berdagang kalau memodal jujur ngikutin adab berdagang seperti yang diajar agama, rejeki pasti manten lancar. Dari dulu juga Ibu punya cita -cita ingin bantu anak-anak panti asuhan kalau bisa sampai punya warung 2. Alhamdulillah matur suksema Gusti Allah ngabulin doa Ibu, Kudo-nya Ibu belikan barang untuk anak – anak Yayasan Yappa.” ungkap Ibu Eni yang ditemui di warungnya di Suwung Batan, Denpasar Selatan. Kejujuran Ibu Novi menjadikan namanya dikenal warga kampung Denpasar Selatan.

 

2. Wijaya Thamrin (Bogor)

Cerita lain datang dari Gunung Batu, Jonggol. Kang Wijaya Tamrin (40) yang baru berdagang daring Kudo selama 3 bulan menggunakan hasil komisi yang ia kumpulkan untuk dibelanjakan 20 kardus besar sirup dan beras, dibagikan kepada tetangga sekitar yang kurang mampu. Pria paruh baya ini bukanlah yang berasal dari kalangan keluarga ternama, bukan pula salah satu pedagang yang memiliki jaringan di mana-mana.

Ia hanyalah seorang kepala keluarga kecil dan sederhana dari pinggiran Barat Jawa, yang pernah melalui kesulitan dalam . “Usaha jual aksesoris telpon genggam sempet lesu, pemasukan masih defisit. Sedangkan saya harus melunasi sewa tempat bulanan, , mengganti hutang modal beli aksesoris telpon genggam semua. Tidak ada biaya untuk anak dan istri di rumah, bingung harus cari uang darimana.” ujar Kang Wijaya.

”Tau kondisi abdi, Emang (Paman) yang kondisi ekonomina mampu, dageh sukarela ngabantu, sumbang pinjaman dua kali lipet tina modalnya ku abdi. Malah si Emang juga ngirimkeun sakardus besar sirop sareng beras ka rumah, katanya untuk dahar anak dulu sambil nunggu dagangan laku lagi. Emang juga ngasih kalonggaran waktu pelunasan. ‘Upami teu dibayar ge teu sawios..’ Atau katanya, ‘Kalau tidak diganti juga tidak apa – apa..’. Kepercayaan nu diberikan menjadi motipasi abdi untuk berdagang dengan modal kajujuran, doa, sareng ikhtiar. Abdi ogah mencurangi keluarga sendiri, dan mau gawe lebih getol. Istri ikut bantu dagangin barang dalam aplikasi Kudo ke ibu – ibu majlis ta’lim sareng arisan sore loh. Alhamdulillah teu berapa lama kembali bangkit! Tina kamurahan rejeki Allah akhirnya abdi mampu ngalunasin uang pemberian dari si Emang. Pangalaman pemberian sirup sareng beas juga nginspirasi abdi untuk ngabagikeun sirop sareng beas ke warga sekitar awal Ramadhan lalu.” ungkap Kang Wijaya yang juga mengungkapkan strategi dagangnya yaitu dengan memanfaatkan – promo bonus potongan Kudo. “Kaum ibu paling gumbira dapet potongan Rp 10.000,00 kanggo mayar Rp 50.000,00,” cerita Wijaya.

 

3. Anizam (Lombok Timur)

 

Di pelosok Aikmel, Timur, Pak Anizam (36) adalah sosok lain inspiratif yang berprofesi sebagai guru SDIT Al-Ulum Waliklam. Menjadi ungkapnya, memberi ide untuk mengajarkan kewirausahaan kepada murid-murid sedari dini. Ia sering dititipkan uang oleh orang tua murid agar dapat dibelikan barang di kemudian hari.

“Sembari jemput anak, wali murid pada jam pulang sekolah sering datang ke saya. Minta dibelikan pulsa, listrik, macam -macam. Tapi yang paling sering ya deposit uang. Paling besar saya pernah dititipkan Rp 850.000,00, minta dekat-dekat tanggal kenaikan kelas nanti dibelikan sepeda buat anaknya. Kalau tidak ingat anak di rumah mah, bisa saja saya melakukan kecurangan. Insya Allah dalam kondisi apapun saya teguh memegang amanah para wali murid semua” ungkap Pak Anizam.

Pelanggan Pak Anizam malah semakin banyak. “Komisi yang terkumpul saya belikan lagi barang-barang keperluan rumah.” tambahnya. Keterbatasan finansial tidak membuat Pak Anizam enggan bersedekah. Salah satu field officer Nusa Tenggara Barat Kudo memberitahukan bahwa di awal Ramadan lalu Pak Anizam membagikan buku pelajaran kepada anak-anak muridnya secara .

Sementara itu, , COO & Co-Founder Kudo menyampaikan rasa salutnya terhadap ke-3 agen daerah ini. Ia menyatakan “Lewat bendera #ModalJujur pada bulan Ramadan ini kami mendorong 450.000 agen diseluruh pelosok untuk berdagang secara jujur, sebagaimana Kudo mencontohkan kejujuran lewat implementasi transparasi harga, komisi, dan informasi penting lainnya kepada agen-agennya. Kudo juga mengajak kecil-menengah jujur lainnya untuk bergabung bersama Kudo demi menciptakan Indonesia yang lebih mulia dan maju, dalam upaya menciptakan 1 juta pengusaha mikro Indonesia pada tahun 2018 nanti.” (Foto: Kudo)

Dikutip dari: https://majalahkartini.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *